Selasa, 25 Oktober 2011

Profesional, Begitu Kata Mereka

Selasa (25/10), 20.00 WIB. Tepat saat saya membuat tulisan ini, sedang ada pertandingan sepakbola di SCTV yang "katanya" turnamen pramusim. Pramusim? Bukannya Liga Indonesia sudah dimulai? Memang, Indonesia Premier League, Liga bentukan rezim Djohar Arifin dkk telah melakukan kickoff tanggal 15 Oktober lalu. Namun, keputusan-keputusan yang dibuat oleh PSSI selalu saja kontroversial dan menyisakan masalah-masalah, termasuk masalah Liga yang hingga kini tak kunjung tuntas. Inikah yang dimaksud dengan PROFESIONAL?
Situasi yang tengah dihadapi oleh persepakbolaan Indonesia saat ini kurang lebih seperti peribahasa "Keluar mulut singa, masuk mulut buaya". Terpilihnya Djohar Arifin sebagai ketua PSSI beberapa bulan lalu telah menguapkan ekspektasi kita, yang sudah lelah akan kebobrokan pengurus dari rezim sebelumnya yang sangat kental dengan aroma korupsi. Apa saja sih yang dilakukan Djohar cs untuk memperbaiki persepakbolaan Indonesia?
Keputusan kontroversial dibuat hanya empat hari sejak ketua PSSI yang baru terpilih. Alfred Riedl dipecat, dengan alasan yang menurut saya mengada-ada. Bagaimana mungkin pelatih sekaliber Alfred mau menandatangani kontrak secara personal, bukan dengan organisasi? Oke, mungkin PSSI punya maksud dibalik itu. Wim Rijsbergen masuk. Saya ingat, pada salah satu wawancara dengan Tv One, Arya Abhiseka mengatakan bahwa penunjukan Wim sudah tepat karena Wim sempat melatih di PSM yang bermain di LPI dan sering menonton pertandingan ISL lewat televisi. Menjadi pelatih suatu timnas, dengan bekal menonton televisi. hahaha... dan kemudian apa yang terjadi? Wim berlaku tidak elok pada pemain dengan memaki dan menyalahkan skuad yang menurutnya bukan pilihannya. Seorang pelatih seharusnya bersifat layaknya seorang "ayah" dan selalu berdiri paling depan jika "anak-anaknya" sedang terluka, bukan malah menyalahkannya, Meneer..
Sebenarnya masalah Timnas bukan hanya itu. Manajemen Timnas pun seperti pekerja amatiran. Masih ingat bagaimana Timnas pulang lebih lambat dari Iran karena ketiadaan penerbangan? Bukankah hal itu bisa diatasi sejak jauh-jauh hari? Belum lagi gagal berangkatnya Wahyu Wijiastanto dan Tony Sucipto karena tidak keluarnya visa, dan tetap dibawanya Nasuha walaupun yang bersangkutan sudah terkena akumulasi kartu. Dan baru tadi sore, saya mendengar kabar bahwa pertandingan Indonesia U-23 melawan Timor Leste tanpa penonton karena tidak adanya izin kepolisian. Padahal PSSI sudah sesumbar akan melepas 10.000 tiket. Huh!
Sejenak lupakan masalah Timnas, karena ada masalah yang lebih pelik yaitu belum berjalannya liga yang sudah vakum hampir setengah tahun ini. Untuk kasus ini, PSSI tidak ubahnya seperti ababil. Dua wilayah dengan 32 klub, yang menurut PSSI akan menghemat anggaran klub yang tidak lagi disokong APBD. Dengan banyaknya protes dari berbagai pihak, diubahlah format itu menjadi satu wilayah dengan 24 klub (dengan 6 klub tambahan). Agak lucu mendengar alasan PSSI ketika ditanya alasan penambahan 6 klub itu. Faktor historis lah, animo penonton lah, permintaan sponsor, blablabla.. (lalu HEMAT nya mana?) Jika rezim yang baru ini dulu sering berkoar tentang masalah statuta saat PSSI masih dipegang NH, mengapa sekarang malah menabrak-nabrak statuta itu? (hmmm.. menurut saya, semua ini semata-mata untuk mengakomodasian kepentingan pihak-pihak yang bernaung di bawah sesosok orang kaya berkepala botak :p) Dan akhirnya muncullah kelompok 14 yang akan membuat liga tandingan, Indonesia Super League, yang saat ini sedang melakukan turnamen pra-musimnya. Ya, hidup memang seperti roda, terus berputar :)
Ah, sudahlah. Mari kita nikmati saja tontonan sepakbola negeri ini di televisi, seolah-olah tidak ada masalah didalamnya. Semoga masalah-masalah ini cepat usai dan organisasi sepakbola kita bisa bekerja dengan profesional. Benar-benar profesional, seperti kata "mereka" :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalin komen ya! :D