Kamis, 12 April 2012

Life's about how we grow

Gue mau cerita dikit boleh ya..

Jadi beberapa hari yang lalu gue sama temen-temen Elektro UII baru aja kelar ngadain Electricare 2012 di sebuah panti asuhan di Pakem, Yogyakarta. Apa itu Electricare? Electricare itu semacam acara bakti sosialnya anak-anak Elektro. Ya walaupun nggak berbakti-bakti amat sama sosial (oke ini maksudnya apa) karena kita cuma nyumbang duit seadanya dan beberapa pakaian layak pakai, seenggaknya banyak pelajaran yang bisa gue ambil..




teman-teman Elektro UII bersama penghuni panti..  (  hayo tebak gue yang mana :p )

Gue baru tau. Anak-anak disini kebanyakan sengaja dititipin di panti karena orangtuanya emang nggak sanggup nyekolahin..
Yang gue nggak nyangka, ada beberapa anak yang sengaja "dibuang" orangtua mereka. Maksudnya? mereka dilepas gitu aja. Ada yang dilepas di jalanan -yang secara nggak langsung menyiksa mental-, dan kekerasan fisik, kayak dipukuli dan digunting bibirnya.
Bahkan bapak panti sempet bilang kalau ada ibu hamil yang udah "pesen" tempat duluan buat tuh jabang bayinya (yang tentu aja nggak diterima sama bapak panti)..

Gue jadi mikir. Selama 19 tahun ini gue hidup enak banget. Gue hidup di sebuah comfort zone. Gue punya orangtua yang sayang banget sama gue, dari gue lahir sampai detik ini. Waktu kecil dibeliin mainan macem-macem. Apa yang gue minta selalu diturutin. Gue disekolahin tinggi-tinggi. Hal yang nggak didapetin sama anak-anak panti asuhan.. how lucky i am..

. . .

Oke, let's move to the topic..

Sebagai remaja yang gawlz dan selalu update, tiap hari gue buka Facebook. Liat-liat wall, konfirmasi pertemanan, buat status, terus ngechat orang : "Lik3E stTuz Aquwh EaAA".

Tapi hari itu beda..

Awalnya gue nggak sengaja ngeliat foto lama seorang teman yang muncul di home. Gue jadi penasaran. Gue buka profilnya, liat foto-foto yang lainnya. Gue mulai tertarik. Nggak puas dengan satu orang, gue pindah ke foto teman yang lain. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya gue senyum.. ya, malam itu gue  menjadi seorang stalker :)

Gue ambil foto kecil gue dulu. Gue pandangin lama. Gue senyum lagi, lalu bilang dalam hati :"waktu kecil gue ganteng banget. Mungkin kalau Afika seumuran sama gue dan kita dipertemukan oleh Tuhan waktu itu, gue bakal sukses nge-gebet doi". Random abis.

berani macem-macem? tendang niih..

Hebat banget ya. Gimana kita yang dulu punya lingkungan yang beda, bahasa yang beda, dan tentu aja masa lalu yang beda, sekarang bisa kumpul disini. Dan kita bisa saling kenal tanpa tau masa lalu masing-masing. Entah, mungkin gue punya temen yang dulunya penjahat? atau mungkin juara ngaji di kampungnya? who knows? :)

Gue sendiri juga punya masa lalu. Masa anak-anak gue habisin dengan sekolah, main, dan TPA. Sampai saat itu gue masih ngerasa di lingkungan yang nyaman banget. Gue pikir semua anak-anak di masa ini punya kehidupan seiindah ini. Nggak macem-macem. Tapi gue salah. Nggak semua orang dapat kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya, dan lingkungan akan menentukan seperti apa kita nantinya. Semua (agak) mulai berubah ketika gue putuskan untuk ngelanjutin sekolah di STM. Dan gue tau apa pikiran kalian kalo denger kata "anak STM". Ya, kehidupan di STM hampir mirip sama apa yang orang-orang bicarakan, walau nggak seluruhnya benar. Gue dulu punya temen yang ngerokok, tukang berantem, mabuk, bahkan ngobat. Tapi gue selalu pegang prinsip: kita boleh terjebak di lingkungan yang salah, tapi jangan sampai terjerumus di dalamnya.. Tapi bukan berarti semua anak STM gitu ya. Masih banyak kok anak-anak STM yang bisa berprestasi, termasuk di sekolah gue. Dan gue tau, temen-temen gue sebenernya orang yang pinter, hanya saja mereka terjerumus di lingkungan yang salah. Tapi yang terpenting dari semua itu adalah gimana kita bisa tetap "bermanfaat" walaupun sudah terjerumus di lingkungan yang salah sekalipun. Gue paham banget dengan apa yang gue tulis di kalimat sebelum ini. Temen-temen gue sekarang udah banyak yang sukses. Hidup mapan dengan gaji jutaan. Sementara gue? sampai detik ini belum jadi apa-apa. :)

Life's about how we grow. Hidup adalah tentang bagaimana kita tumbuh. Tentang siapa yang menuntun kita ketika kita mulai merangkak hingga bisa berjalan, kemana kaki kita melangkah ketika sudah mahir berjalan, apa yang kita capai di usia produktif, dan apa yang kita rasakan ketika sudah sampai saatnya kita tidak bisa berjalan lagi. Dan tentu aja yang paling penting adalah gimana hidup kita bisa bermanfaat bagi orang lain. "Karena.. sesungguhnya.. sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain" - Rasulullah.

Oke sekian postingan kali ini. Maaf kalo kepanjangan. Semoga bermanfaat. Ciaoo :D

2 komentar:

  1. Gua sering banget jadi stalker ::hammer::
    karena suka baca karakter orang lewat status2 fb, foto2, comment2an, dll. Yang pasti seru aja,dan sering ketika ketemu sama org yang di fb gua tebak golongan darah dia apa, dia biasanya kaget dan pikir gua cenayang padahal gua cuma observasi dia dan dibantu analisanya pake buku2 psikolog, eaa XD

    BalasHapus
  2. alhamdulillah ada yg komen hehe. emang bisa gitu diobservasi golongan darah pake buku psikolog? :O

    BalasHapus

Tinggalin komen ya! :D